Showing posts with label traveler. Show all posts
Showing posts with label traveler. Show all posts

Tuesday, June 5, 2018

Pendakian Lawu via Ceto

Cerita dari Lawu via Ceto.


Beberapa bulan lalu kita memutuskan untuk melakukan pendakian kembali setelah sekian lama sibuk dengan rutinitas kota dan debu jalan, akhirnya kami sepakat untuk mengunjungi gunung Lawu di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur itu, Kami berangkat tanggal 9 Mei dari jakarta menuju solo menggunakan bis dan melakukan pendakian di tanggal 10 pagi sampai tanggal 12 Mei.

Kami ber 3 berangkat dari terminal di jakarta barat menggunakan Bis menuju solo, sesampainya di terminal solo kamipun bergegas mencari ke 4 teman kami dari bekasi dan bogor yang sudah sejak tadi sampai. 
kami menggunakan avanza membelah kota solo di pagi2 buta ini untuk menuju bashcamp ceto, sesampainya kami di bashcamp ceto kamipun mempersiapkan kembali barang dan keperluan yang kurang dan packing ulang tak ketinggalan pula memulai ritual rutin BAB dan sarapan sebelum memulai pendakian.




dan Pukul 9 pagi kami memulai perjalanan melewati beberapa anak tangga menuju pos pendaftaran untuk mendata rombongan kami, setelah selesai segala sesuatunya kami pun berdoa dan memulai pendakian yang akan sangat panjang ini.

Oh iya sebelum aku memulai cerita dalam perjalanannya aku akan menjelaskan sedikit tentang gunung Lawu.

Gunung Lawu merupakan sebuah gunung yang sarat akan adat dan budaya, setiap tanggal 1 Suro, gunung Lawu selalu ramai dikunjungi oleh para penziarah, di sana mereka melakukan berbagai ritual, mulai dari pencucian keris hingga mengunjungi tapak tilas Prabu Brawijaya, 
Namun, di balik itu semua, gunung Lawu juga merupakan sebuah gunung yang populer di kalangan para pendaki. Hal itu dikarenakan panorama alamnya yang memukau dengan track yang menantang.

Gunung lawu terletak di provinsi Jawa Tengah tepatnya di Kabupaten Karanganyar sekitar 1 jam dari arah kota Solo ( Surakarta ) . Gunung ini terletak di perbatasan tiga kabupaten sekaligus yaitu Kabupaten Karanganyar ( Jawa Tengah )  , Kabupaten Ngawi ( Jawa Timur ), dan Kabupaten Magetan ( Jawa Timur ).
Meskipun sudah berstatus tidak aktif, puncak gunung ini masih memiliki kepundan kecil yang masih mengeluarkan uap air ( Funnarol ) dan belerang ( Solfatara ). Susunan dari Gunung Lawu mempunyai tiga bagian puncak yaitu Puncak Hargo Dalem, Puncak Hargo Dumiling, dan puncak yang paling tertinggi dari gunung ini adalah bernama Puncak Hargo Dumilah. Selain itu, kawasan Gunung ini juga mempunyai beberapa hutan yang terkenal yaitu Hutan Dipterokrap Bukit, Hutan Dekteropkap Atas, Hutan Montane, dan Hutan Ericacaous.

Gunung Lawu memiliki 3 puncak, yakni puncak Hargo Dalem, puncak Hargo Dumiling dan puncak Hargo Dumilah (3.265 mdpl) yang merupakan puncak tertinggi. Untuk mencapai puncaknya, setidaknya ada 4 jalur pendakian yang sering digunakan oleh para pendaki.

  1. Cemoro Kandang
  2. Cemoro Sewu
  3. Candi Ceto
  4. Jogorogo (Ilegal)
Oke, sekarang Jam di tangan kami telah mununjukan pukul 8.30, kami pun memulai pendakian kami setelah melakukan pendaftaran dan berdoa, kami berjalan di sisi kiri candi ceto menuju ke candi ketek jalan setapak yang asri dan landai, kamipun terus menyusuri jalanan setapak yang rapat dengan rumput dan tanaman liar, oh iya satu lagi di sepanjang jalur pendakian banyak di tumbuhi beri hutan yang pasti sudah tas asing lagi bagi para pendaki, lumayan untuk memberi rasa asam pada mulut yang mulai pahit.

sekitar 1 jam perjalanan kami sampai di Pos 1, beristirahat sejenak dan bercanda bersama rekan-rekan adalah hal yang selalu kami lakukan untuk melupakan rasa lelah kami, tak lama kami pun melanjutkan perjalanan kami, perjalanan yang mulai menanjak dan jalur pun masih sama dengan sebelumnya hanya kerapatan hutan yang bertambah, disini jalurpun selalu terhalang kabut tebal, cukup lama kami berjalan dan sampai kami di POS 2, hari ini jalur pendakian sepi hanya beberapa rombongan aja yang naik, dan salah satunya sepasang bule yang berpapasan dengan kami di pos 2, setelah dirasa cukup beristirahat kami pun melanjutkan kembali pendakian kami menuju Pos 3 jalur yang cukup panjang kali ini dengan track yang sangat menanjak dan menguras tenaga, setelah sekitar 2.5 jam kami sampai di mata air, disini kami beristirahat cukup lama sambil menyeduh kopi sekedar menghilangkan rasa lelah, targetan kami adalah Bulak peperangan jika memang kondisi memungkinkan, setelah ngopi-ngopi ceria dan banyolan-banyolan kami yang memecahkan tawa, kami kembali packing dan bergegas melanjutkan menuju Pos 4, karena perjalanan masih cukup panjang, dan jalur dari Pos 3 ke Pos 4 ini adalah jalur yang super menantang, tanjakan yang gak ada habisnya, bersusah payah kami sekluarga, tetapi sedikit demi sedikit langkah demi langkah kami lalui untuk sampai di Pos 4, sesampainya di Pos 4 tetap kondisi pun tak ada rombongan lain hanya ada 2 tenda kosong yang mungkin penduduknya sedang menuju puncak, sekarang Jam menunjukan Pukul 16.30, kami sepakat melanjutkan perjalanan kembali menuju Pos 5, tetapi jika memang kondisi tidak memungkinkan kami juga sepakat untuk tidak memaksakannya, jalur yang super panjang melewati 3 bukit untuk mencapai pos 5, stamina yang memang sudah habis tak bersisah, hanya semangat dan rasa penasaran kami yang terus memaksakan langkah kaki dengan beban yang lumayan berat ini, tp proses itu tidak akan menghianati 
sebuah hasil.










Kami sampai di tanah lapang sebelum Pos 5 dan kami juga sepakat untuk mendirikan tenda di sini karena kondisi kami yang sangat kelelahan dan jam pun sudah menunjukan pukul 7 malam dengan udara yang sangat dingin, kami pun berbagi tugas dan kebahagiaan beberapa rekan kami mengeluarkan alat masak dan akupun mendirikan tenda beserta flysheet dan penerangan, cukup terang tenda kami karena kami menggunakan penerangan solar panel, setelah semua beres kami bergantian mengganti pakaian basah kami dengan pakaian kering dan jaket untuk menghangatkan badan, setelah makan malam kami pun segera mengistirahatkan badan, salah satu teman kami bertanya dari tenda sebelah, “Woi.. besok kita bangun jam berapa? subuh ya.” dan aku, kibot dan noval yang berada satu tenda menanggapinya dengan kompak, “Sebangunnya aja” dan hening, kami bukanlah pendaki yang menaruh puncak di atas segalanya, kami hanya penikmat alam bebas, kami bahagia dengan kabut tipis dengan embun pagi, bukan kami tak mengenal management waktu yang baik, pengecualian ketika dalam beberapa perjalanan pendakian yang di haruskan memanage waktu dengan baik. tapi pendakian kali ini, kami hanya ingin berada dekat dengan alam, menyatu di dalamnya.

Akupun terbangun karena suara pendaki yang baru sampai dan mendirikan tenda di samping kanan dan kiri tenda kami dan juga suara dengkuran teman yang lebih merdu suara kenalpot bajaj jakarta, aku melihat jam yang menunjukan pukul 1 malam, akhirnya ku putuskan untuk keluar dan menyalakan penerangan yang kami bawa untuk sekedar membantu, obrolan2an ringan pun muncul akupun menyeduh kopi untuk melawan hawa dingin yang teramat sangat malam itu,
dan ketika aku keluar dari tenda yg hangat itu aku di suguhkan pemandangan yang luar biasa indah, yang tidak sanggup di lukiskan dengan kata, Milyaran bintang bertebaran di atas tenda kami dengan sangat terang di sepertiga malam, Masya Allah.
aku duduk termenung di batang pohon yang tumbang di samping tenda dan memandangi langit yang sangat cerah malam itu, 
milyaran bintang yang berkilauan menyuguhkan keindahan tiada tara, aku terus menatap langit sambil bersyukur pada Allah diberi kesempatan melihat kuasanya keindahan yang mungkin hanya beberapa orang saja yang bisa menikmatinya. sampai jam 2 malam dan udara semakin menusuk tulang aku memutuskan untuk kembali ke tenda dan melanjutkan tidur.

Sekarang Pukul 5 Pagi di tanggal 11 Mei 2018, aku kembali terbangun hanya saja lebih memilih di dalam tenda dengan sleeping bag dan jaket hanyat yang memberikan kenyamanan pagi itu, udara pagi ini sangat dingin bahkan lebih dingin dari malam tadi, sampai jam 6 pagi kami pun memutuskan keluar untuk menikmati pagi dan senam untuk menghilangkan dingin yang teramat sangat, play musik dan joget-joget2 untuk menggerakan badan yang kaku, sebelum memasak dan melanjutkan perjalanan kami menuju puncak.






Acara joget-joget selesai, Sarapan pun udah kita mulai packing dan membereskan beberapa barang untuk di bawa ke puncak sementara tenda dan lain2 kita tinggalkan, lanjut kami menyusuri jalanan setapak yang dipenuhi ilalang dan edelweis, tak jauh kami berjalan sampailah di hamparan padang rumput yang begitu indah tempat yang dahulu di jadikan perang prajurit majapahit ya ini bulak peperangan, ah indahnya, kami melanjutkan perjalanan menanjak dan dari pos 5 menuju puncak di dominasi padang rumput yang luas dan indah, dan sampailah kami di gupak menjangan, padang rumput yang begitu luas begitu indah dan ya disini panas.. jepret-jepret sesi foto-foto terus dilakukan sampai puas, lalu kami melanjutkan perjalanan karena tak mau terlalu lama menghabiskan waktu, dan sampailah kami di satu tempat yang kental sekali dengan cerita mistis dan suasana mistisnya, kami sampai di pasar dieng (pasar setan gunung lawu) disini di dominasi cantigi dan edelweis dan bebatuan yang di tumpuk-tumpuk, suasananya pun berbeda di kawasan ini, susah untuk di jelaskan.

kami tak mau berlama-lama dan melanjutkan perjalanan kemali setelah beberapa kali mengambil gambar, dan kami sampai di hargo dalem, dan disini para pendaki bisa menjumpai warung tertinggi di indonesia untuk sekedar menikmati jajanan, kopi dan segala macamnya.


Setelah beristirahat dan jajan-jajan kami melanjutkan perjalanan yang tinggal sedikit lagi ini, jalur yang cukup sulit karena kondisi track yang menanjak dan bebatuan jadi harus ekstra hati2. 
dan…
Hargo Dumilah, 3265 mdpl. puncak tertinggi gunung lawu.

akhirnya setelah perjuangan kami dari kemarin sampai juga kami menggapai atap para dewa di gunung lawu, sujut syukur ku atas keindahan yang di berikannya, keindahan yang hanya bisa di dapatkan dengan perjuangan yang tidak mudah.

setelah sesi foto-foto dan menikmati jajanan yang kami bawa dari pos 5, kami putuskan untuk segera turun dan bergegas packing barang2 kami di pos 5, karena rencana kami akan kembali bermalam di Pos 3 Mata air.


Galery












Thursday, April 13, 2017

Pendakian Puncak Gunung Tanggamus

Di Belantara Hutan Hujan Tropis Sumatra aku berjalan menelusuri jalan setapak yang rimbun dengan ilalang dan rumput berduri, jalan setapak yang tiada hentinya menanjak itu pastinya menguras stamina yang tersisa.

kala itu sinar matahari terhalang pepohonan rindang yang membuat tanah disana gelap dan lembab, aku dan ketiga temanku terus menyusurinya tanpa memperdulikan betapa banyaknya hewan penghisap darah disana, aku hanya berpikir bagaimana menjaga semangat agar dapat sampai di sana, di tanah lapang dengan tiang bendera di tengahnya dan beberapa prasasti yang ditanam disana sebagai tanda bahwa disanalah puncak tanah tertinggi ke 2 di tanah Lampung.

Saya dan 3 orang teman sedang melakukan pendakian ke puncak tanggamus 2102 mdpl, gunung tertinggi ke 2 di lampung setelah pesagi di lampung barat, pagi menjelang siang kita telah sampai di shelter 2 menjelang puncak, staminapun sudah terkuras, bagaimana tidak sudah berapa jam kita berjalan menelusuri jalur yang menanjak dan licin karena lumutnya, kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan karena kami pun tak mau jika harus bermalam di jalur curam berteman pacet ini, lagi pula perbekala pun hanya apa adanya.

lebih kurangnya 5 jam perjalanan untuk sampai puncaknya, dan kami baru berjalan sekitar 4 jam untuk sampai di hutan padat dengan pohon pohon raksasa berselimut lumut yang menguning, jalurnya pun berubah dari tanah menjadi akar2 pohon yang menutupi, aku seperti berada dalam dunia fantasi kala itu, hutan yang gelap basah dan padat, ya kami telah sampai di hutan lumutnya kira2 di ketinggian 1900an mdpl mungkin, tak ada sama sekali sinar matahari masuk, jarak pandang pun hanya beberapa meter tertutup kabut abadinya.

Tak ada cantigi pikirku seperti jalur puncak di gunung2 lain yang menjadi tanda puncak telah dekat, yang ada hanya pepohonan raksasa yang entah sudah berapa lama ia tumbuh.

jam menunjukan sudah pukul 1 lebih, dan benar saja sepetak tanah dan tiang bendera itu pun mulai terlihat beberapa meter di depan, bersyukurku karena telah sampai disini di atap bumi ruwai jurai dengan ketinggian 2102 mdpl, lemas iya senang iya, ah rasanya lain sekali dengan biasaya, ada kepuasan sendiri menaklukan hutan hujan tropis milik sahabat lama..

karena waktu sudah menunjukan pukul 2 siang, kami putuskan untuk turun meninggalkan sebuah kenangan dan jejak..

Tanggamus 21 July 2015
Adityas Nu









Tuesday, October 20, 2015

Pendakian Gunung Tanggamus Gunung Tertinggi ke 2 di tanah Lampung

Basecamp Sonokeling Gungung Tanggamus 2102 mdpl

SINOPSIS
MEREKAM JEJAK

Kata Pengantar
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. Berkat limpahan karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan penulisan buku MEREKAM JEJAK Part 1. Dalam penyusunan MEREKAM JEJAK Part 1 ini kami telah berusaha semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan kami. Namun sebagai manusia biasa, kami tidak luput dari kesalahan dan kekhilafan baik dari segi tekhnik penulisan maupun tata bahasa.
Buku ini kami dedikasikan untuk mengenang sahabat kami Nandi Ariana Rahman selaku penulis buku ini yang telah mendahului kami pergi ke pangkuan Allah SWT. Karena buku ini adalah salah satu mimpinya yang belum sempat di selesaikan olehnya, maka dengan ditulisnya buku ini kami mencoba menyusun catatan perjalanan hidupnya di dalam bagian dari tulisan ini..
MEREKAM JEJAK adalah sebuah kisah perjalanan kami menggapai serpihan-serpihan keindahan Alam Negri ini yang di bagi menjadi beberapa part, ya perjalanan Alam bukan hanya wisata background semata melainkan wisata spirituil, untuk merenung, untuk lebih mengenali diri dan mengenal Tuhannya.
“Aku juga ingin agar ketika nanti kita tak sempat berbicara dengan anak cucu kita, mereka bisa membacanya dan mengerti betapa indahnya Tanah Lahirnya dan betapa bangganya mereka memiliki ayah dan kakek petualang” (Nandi Ariana Rahman).
Demikian semoga karya tulis ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan para pembaca pada umumnya.
Adityas Nu, 04 Februari 2016
Penyusun

Hutan Lumut G. Tanggamus 2102mdpl

Latar Belakang

Aku adalah bernama Nandi Ariana Rahman, Ibu dan Ayahku memanggilku nde, atau aa. Pacarku nanti semoga akan memanggil aa. Anak pertama dari tiga bersaudara yang kesemuanya harus bertakdir lelaki, Aku, Reda, dan Fatwa. Alhamdulillaah pemain smackdown semua, enggak aamiin.
Aku enggak ganteng, enggak tinggi, enggak sixpack, dan setidaknya enggak cantik dan kalau jalan setidaknya enggak seperti lelaki tanpa tulang, dan tetap selalu merasa seksi dengan kekuranganku. Usiaku hari ini sudah sampai seperempat abad semenjak kehadiranku di Bumi. Selalu merasa sebagai manusia beruntung yang sudah terlanjur hadir di planet ini dan harus, alhamdulillaah, bersyukurlah!!
Aku juga cuma lulusan SMA di SMAN 1 Jasinga yang mencoba melanjutkan pendidikan untuk sekedar mencari ilmu (karena ayahku tidak pernah menyuruh aku bekerja sesuai dengan jurusan yang terpaksa kuambil, katanya (ilmu mah gak bakal percuma, kerja mah gimana nanti maunya apa) di aneka kampus yaitu di UHAMKA selama 2 tahun dan mengenal banyak manusia yang menjadi teman dan sekarang masih tetap berkomunikasi seperti saudara sendiri, alhamdulillaah. Dilanjutkan dengan kepindahanku ke kampus di Bogor yaitu Universitas Pakuan dengan jurusan yang masih sama dan alhamdulillaah banyak teman lagi di sini. Ayahku juga bilang lagi ketika aku sulit untuk lulus “santai aja kuliah mah, gak perlu dibawa pusing, nanti juga lulus kalau udah waktunya”, kalau gak percaya ayahku bilang gitu, tanyain aja sama temanku si Kunto orang cibinong dan yang lainnya juga!! “Enak banget lu bokap lu bilang gitu”, kata si kunto waktu itu.
Dulu aku sempat punya pacar yang selalu kuanggap cantik dan sekarang masih dianggap cantik sama pacar barunya atau mungkin suaminya kalau sudah menikah, maaf, hehee.
Baiklah sekarang kuceritakan tentang adikku yang ikut dalam perjalanan ini, yaitu si Reda.
Reda Nugraha Maulana Sidik nama lengkapnya. Kalau nama panjangnya mah Redaaaaaaaaaaaa. Aku panggil dia sih “ade”, wajar kan?
Usianya berselisih 4 tahun di bawahku karena dia adikku. Kasihan si Reda enggak pernah berhasil mendahului usiaku ini. Secara fisik dia lebih tinggi dari aku yang sedang menjadi kakaknya di Planet Bumi ini. Dia selalu mengikutiku dari semenjak kecil. Sekolah di SD yang sama dengaku dan jadi adik kelasku. Di SLTP yang sama denganku juga di SMA yang sama dengan SMA ku dulu bersekolah. Tapi alhamdulillaah enggak ngikutin kuliah di kampus yang sama karena dia lebih beruntung dariku dan bisa masuk ke kampus yang katanya susah seleksi masuknya, di UPI (Univ. Pendidikan Indonesia).
Sekarang si Reda sudah diwisuda alhamdulillaah enggak telat sepertiku. Dan sewaktu perjalanan ke Lampung ini juga dia sudah lulus sidang kok, alhamdulillaah ya. Seandainya belum sidang skripsi pun dia pasti tetap ikut aku naik gunung. Iya dek, skripsi jangan sampai mengganggu waktu bermainmu, apalagi mengganggu jadwal mimpimu untuk naik gunung.
Kami bersaudara selalu sering untuk mendaki gunung bersama, dia ingin ikut dan aku juga enggak tega ninggalinnya.
Baiklah aku jelaskan mengapa harus ke Lampung, mengapa enggak ke tempat yang dekat, kenapa enggak kelilingi dulu pulau jawa dan tidak usah menyebrang ke arah barat.
Aku adalah orangnya yang sulit untuk menjadi mengikuti arus utama atau bisa dibilang enggak mau yang mainstream (kata anak ghaul). Selalu ingin berbeda dengan pendapat yang manusia lain meskipun aku harus salah, hahaa. Tapi aku harus jujur dan memang begitu adanya. Pendapat orang yang padahal benarpun akan aku salahkan jika sedang mau, hahaa. Jadi ingat quotes Pidi Baiq “kalau kamu benar, jangan merasa paling benar. Karena akupun kalau salah, tidak akan merasa paling salah”.
Awalnya aku memiliki rencana untuk ke Pagaralam di Sumatera Selatan yang ibukotanya Palembang yaitu gunung Dempo. Kenapa harus gunung Dempo? Karena kalau everest kejauhan dan gak punya uang dan dingin dan bisa mati aku dan mendingan kita naik haji dulu lah, aamiin.
Di salah satu status Facebook temanku lebih tepatnya abangku yaitu bang Effendi Bukanpepen (nama facebooknya) tak lain salah satu admin grup Pendaki Indonesia yang berslogan “persahabatan terjalin, persaudaraan terengkuh, bersama mengukir cinta kepada alam”. Bang Pepen sepertinya akan mendaki gunung Dempo yang memang sudah sangat kuinginkan semenjak dulu. Dan sempat gagal ketika akan ke Dempo bersama kang Budi (hijjau jenggala nama facebooknya) juga tak lain sebagai admin Pendaki Indonesia juga yang keren dan baik hati juga selalu kurayu untuk bisa memberikan jam tangan kesayangannya padaku, tapi gagal rayuanku. Saat itu gunungnya sedang aktif tidak boleh didaki ya kang? Gagal kita ya.
Pernah juga aku akan ke Dempo dengan mbak keren yang satu ini yaitu mbak Siska yang awalnya kenal karena dia satu kost dengan mantan pacarku dahulu kala jaman purba hahaa. Apa kabar mbak Siska? Alhamdulillaah kalau sehat, kuliah sudah lulus kan?. Kamu tahu gak? Mbak siska ini hebat dan aku kagum karena dia bekerja di Jakarta, di KPPU ya mbak? KPPU itu Komisi Pengawasan Persaingan Usaha, benar gak mbak? Dan sambil melanjutkan kuliah S2 nya di jawa tengah yang memaksa harus backpackeran seminggu sekali sepulang kerja dari Jakarta ke Jawa Tengah, itu keren!!!! Aku juga mau nanti doain aja, aamiin.
Karena beberapa kali harus gagal ke Pagaralam, jadinya aku mau ikut bang Pepen yang cuma solo karir pergi ke sana dan nanti akan bergabung dengan salah satu admin Pendaki Indonesia juga di Pagaralam yaitu mbak Qey, Qey Rimba Jenggala nama facebooknya, cari aja.
Sekarang harus jadi, kataku dalam hati. Ikut sama bang Pepen, sudah nanya-nanya budget untuk bisa pergi ke sana dan harus bisa pulang lagi dalam keadaan tetep subur badanku. Kami akan berangkat tanggal 18 Juli 2015 sehari setelah lebaran Idul Fitri. Dan aku belum sekalipun mengatakannya pada Ibuku karena takut dimarah “lebaran malah jalan jauh!! Bukannya di rumah kumpul keluarga, jangan jalan!! Naik gunung terus ngabisin duit, kan harus nikah!! Bukannya ditabung duitnya!!”, ibuku bakal bilang gitu menurut perkiraanku dan ucapannya mungkin akan seperti tanpa tanda baca “koma” pas diucap, bakalan cerewet memarahiku oh mungkin menasihatiku dan tentunya aku enggak bakal kebagian waktu untuk ngomong (diam sajalah).
Makanya aku diam saja pas merencanakan ini dengan bang pepen, tapi si reda mah tahu rencana ini. Dengan beberapa pertimbangan seperti, ongkos, biaya logistik, buat jajan di jalan, tanggal keberangkatan dan lainnya. Yang paling berat membuatku harus mikir adalah ongkos yang naik berkali-kali lipat oleh sebab hari raya alias tuslah.
Lalu bang Pepen tiba-tiba merubah tanggal keberangkatan menjadi tanggal 17 Juli 2015 alias pass hari lebaran. Gimana ini? Hari kedua lebaran saja aku belum berani bilang sama orangtuaku terutama ibu, apalagi ini berubah tanggal menjadi hari pertama lebaran.
Langsung saja kucoba menghubungi temanku orang Pringsewu, Lampung yang bekerja di daerah Jakarta yaitu Adityas. Lama rasanya chating untuk menentukan tanggal jika memang bisa aku pergi ke Lampung. Aku belum membatalkan jadwal dengan bang Pepen dan akan kukabari lagi bang Pepen nanti. Dengan Adit awalnya kami merencanakan pendakian ke Tanggamus tanggal 20 dengan hasil belum pasti karena Adit akan menghubungi temannya dulu. Esok harinya adit mengabari bahwa tidak bisa mendaki tanggal 20 karena ada kepentingan lain, bisanya tanggal 21.
Di sinilah aku ngobrol sama si reda, aku tanya apa dia mau ikut atau enggak. Mau dia ternyata dan panjang obrolan kami. Akhirnya aku membatalkan jadwal dengan bang Pepen ke gunung Dempo. Ini alasannya.
Pertama, maaf bang Pepen, itu tepat hari lebaran dan aku sudah pasti akan merasakan marah besar orangtuaku, terutama ibuku yang sedang sakit sehabis operasi kanker yang sudah stadium 4 itu. Aku enggak mau nambahin beban pikiran ibuku.
Kedua dan terakhir, masalah biaya perjalanan hari lebaran yang ongkos saja sudah mahal karena tuslah. Minimal aku harus punya uang sekitar 1,5jt untuk bisa ke dempo dan bisa pulang lagi. Alhamdulillaah karena rajin menabung aku punya melebihi budget untuk ke dempo. Tapi si reda, dia belum kerja, belum punya penghasilan jadinya enggak punya uang sebanyak itu. Apa aku harus tega enggak ngajak dia yang biasanya selalu ikut denganku? Enggak tega, bakalan aku ajak. Tapi kalau untuk berdua berarti harus punya uang sekitar 3juta dalam waktu yang tinggal beberapa hari lagi dan kemungkinannya gak bakalan ada uang segitu. Biar si reda tetap bisa ikut mendaki bersamaku, dengan inilah kuputuskan mendaki gunung Tanggamus saja setelah kuperkirakan biayanya untuk dua manusia. Fix Tanggamus!!
Sekarang kami hanya cukup memikirkan bagaimana caranya mendapatkan ijin dari kedua orangtua kami yang ternyata sampai malam sebelum keberangkatan kami masih dilarang berangkat untuk naik gunung dihari ketiga lebaran yaitu tanggal 19 Juli 2015.
Ini sedikit latar belakang dan beberapa alasan kami untuk liburan lebaran dengan akhirnya dipilih gunung Tanggamus sebagai tujuan kami.
Terimakasih, dadaaah salam sayang



SINOPSIS
MEREKAM JEJAK
(Secuil Kisah Perjalanan Menggapai Serpihan Surga di Alam Indonesia)
Perjalanan Alam, entah bagaimana aku bisa sangat tertarik dengan hobi ini, seolah tak bisaku melepaskannya, berawal dari ajakan salah satu teman untuk mendaki salah satu gunung tertinggi ke 2 di kampung kami, kami tinggal dan tumbuh di salah satu bagian dari ujung selatan pulau sumatra, tepatnya berada di Kabupaten Pringsewu, Lampung, sewatu di bangku perkuliahan dulu, ajakan itu langsung ku ia kan tanpa berfikir panjang seperti apa pendakian, apa yang harus di lengkapi dan apa saja resiko terburuknya, yang ku tau hanya ini ajakan hiking untuk bersenang2 dan berwisata background semata..
Dari hari itu, hobi ini melekat erat padaku, Alam seolah menjadi candu kuat yang mengikatku untuk selalu berkeinginan mencumbui rindang alamnya, saya merasa dengan dekat akan alam, kita dapat memberikan kesempatan diri kita untuk belajar banyak hal, tentang bersyukur, mengenal batasan diri, mengikis ego, dan mengenal kuasa sang pencipta aku merasa mendapatkan banyak pengalaman baru dan hangatnya persahabatan dengan hobi ini, hampir setiap hari libur kita sering menghabiskan malam di bashcamp pendakian untuk sekedar menikmati belaian kabut dingin membelai kulit dengan di temani asap hangat yang keluar dari secangkir kopi hitam pekat yang pasti nikmat itu.
bertahun-tahun berlalu ternyata aku sedang duduk merenung pagi ini di beranda rumah dengan di temani kopi hitam yang nyaris dingin karena ku diami sejak tadi, lalu fikirannku pun kembali memutar rekaman kejadian beberapa tahun lalu tentang perkenalanku dengan salah satu sahabat terbaik yang ku punya, perkenalan yang singkat dan belum terlalu lama memang, tapi kita sudah seperti teman yang saling mengenal selama berjuta tahun, berawal dari perkenalan di social media, aku berniat membeli sebuah jaket gunung baru dan tak sengaja melihat postingan saller di salah satu grup pendaki, (tersenyum saya mengingat ini) Persekawanan yang terjalin dari sebatas Buyer dan Saller, tapi bukankah itu tak penting, yang terpenting bagaimana kita mempertahankan persekawanannya.. :D
Dan beberapa bulan yang lalu ia bertamu kerumahku, berniat untuk menikmati hutan hujan tropis di gunung tanggamus yang berdekatan memang dengan kampung halamanku, inilah pertemuan pertama kami yang lebih memantapkan bahwa persekawanan yang terjalin memang harus di pertahankan, lalu kemarin kau merangkum perjalanan itu kedalam coretan2 tulisanmu, dan memberikan sebagian sin nya pada ku untuk di selesaikan, lalu kita membuat konsep untuk merangkum kisah-kisah selama perjalanan, dan akupun meng ia kan agar kita bisa berlomba membuat sebuah karya tulis dengan Tokoh kita Pribadi untuk merangkum jutaan kisah selama perjalanan alam yang kita lewati, agar kelak jika kita sudah tak sempat bercerita pada anak cucu kita mereka masih bisa membaca dan menggambarkan bagaimana indahnya tanah lahirnya.
Otaku kembali memutarkan kejadian kemarin sore seperti melihat lagi kedalam kaleidoskop pribadi, Kau mengajaku untuk berkunjung ke puncak anjani akhir tahun ini, kau bilang ingin pergi jauh dan sangat lama, apa kau mencoba memberitahuku kalau kau memang ingin pergi jauh ke pangkuan ilahi? Ah sudahlah semua harus di ikhlaskan, Allah mempunyai jalan sendiri baginya untuk memberikan yang terbaik..
Sambil meneguk kopi hitam dan sebatang rokok, aku memulai merangkum perjalanan hidupku sendiri di buku ini, paling tidak aku membantu menyempurnakan salah satu angan yang belum sempat selesai ini.
Salam hangat dari kami om Nandi Ariana Rahman, Semoga kau Tersenyum melihat kami disini dari Syurganya Allah..

Untuk Cerita Lengkapnya Langsung aja Download Booknya
Di Sini


Galery

Jalur Puncak G. Tanggamus

Hutan Lumut

Hutan Lumut

Salter 2

Puncak G. Tanggamus (Top 2102mdpl)

Air Terjun Gunung Batu

Bendungan Batu Tegi