Showing posts with label bunga abadi. Show all posts
Showing posts with label bunga abadi. Show all posts

Friday, February 26, 2016

Edelweis, sang bunga abadi dari kayangan

Ada keindhaan yang disembunyikan di atas sana, keindahan yang merona dari kelopak bunga berwarna putih kekuningan, dialah edelweis sang bunga keabadian. yang banyak sekali orang membicarakannya sebagai mitos dari keabadian cinta, lalu berlomba lomba memetiknya dan disembahkan pada kekasihnya sebagai sebuah tanda keabadian cinta, ah bulshit, aku tak pernah setuju dengan itu, walaupun kau renggut abadinya lalu kau sembahkan pada kekasihmu, belum tentu cintamu abadi, biarkanlah ia tumbuh dan merona indah di atas sana di puncak para dewa, bagiku cukuplah kita melihatnya bercumbu dengan embun dan kabut tipis, cukuplah kita menyebutnya dengan bangga sebagai sang bunga abadi dari kayangan, tanpa perlu kita memetik dan merenggut abadinya, ajaklah ia melihatnya secara langsung di atas sana di atap para dewa karena ia akan jauh lebih indah di sana dan selama prosesnya akan mengajarkan tentang pengorbanan dan tanggung jawab, sebuah bukti nyata dari keabadian cinta, bukan setangkai edelweis kering yang sudah tak berharga.
@Adityas182

Tuesday, October 20, 2015

Puisi "Lembah Kasih"

Di pagi itu aku duduk di sebuah petak tanah berbukit yang dikelilingi pepohonan khas pegunungan dan di temani secangkir teh hangat yang sedang beradu dengan kabut dingin menyelimuti lembah kasih mandalawangi dan tiba tiba teh hangat tanpa gula itu menjadi manis, manis karena bercampur kenangan kenangan indah masa lalu yang seolah membawaku kembali berada di sana menyaksikan semua kejadian yang tak pernah kulupakan sampai detik ini, ku rebahkan badanku dan bertopang rerumputan basah di pagi itu berharap sang dewa waktu berbaik hati mau memberikan sebuah mesin waktunya untukku. tertarik senyumku kala pagi ini aku melayang layang dengan segala kenangan indah yang terputar dari kaleideskop pribadi..
pagi itu sang mentari bersinar dengan gagahnya memaksa bulir embun yang menggelantung di pucuk edelweis untuk mengering,  kau tahu wahai mentari pagi, gagahmu tak mampu membuat bulir rinduku pada masa lalu yang telah membengku untuk menguap dan menghilang seperti jutaan bulir embun kala pagi itu..
begitu hangat sang mentari kala itu, seolah berbisik dan memaksaku tersadar dari segala lamunan indah masa laluku, hei lihatlah dia bukan lagi masalalumu dia ada disampingmu saat ini, menggandeng tanganmu, melangkah disampingmu, ia bukan lagi siluet dari semburat jingga sunset..
Tersenyum ku kala itu tersenyum pada langit, tersenyum pada alam, terucap syukurkup ada Seluruh Nikmat sang pencipta, begitu indah caranya memberi senyum padaku..

Apa kau pernah merasakan hakikat dari sebuah kata CINTA sebuah kata yang tak asing di telinga semua manusia tapi tak semua orang dapat mengerti dan merasakan hakikat dari kata CINTA yang hakiki? aku pernah..
@Adityas182