Tuesday, March 15, 2016
ISTRI BIJAKSANA
Ada seorang pria, tidak lolos ujian masuk universitas, orang tuanya pun menikahkan ia dengan seorang wanita.
Setelah menikah, ia mengajar di sekolah dasar. Karena tidak punya pengalaman, maka belum satu minggu mengajar sudah dikeluarkan.
Setelah pulang ke rumah, sang istri menghapuskan air mata nya, menghiburnya dengan berkata:
"Banyak ilmu di dalam otak, ada orang yang bisa menuangkannya, ada orang yang tidak bisa menuangkannya. Tidak perlu bersedih karena hal ini. mungkin ada pekerjaan yang lebih cocok untukmu sedang menantimu."
Kemudian, ia pergi bekerja keluar, juga dipecat oleh bosnya, karena gerakannya yang lambat.
Saat itu sang istri berkata padanya, kegesitan tangan-kaki setiap orang berbeda, orang lain sudah bekerja beberapa tahun lamanya, dan kamu hanya belajar di sekolah, bagaimana bisa cepat?
Kemudian ia bekerja lagi di banyak pekerjaan lain, namun tidak ada satu pun, semuanya gagal di tengah jalan.
Namun, setiap kali ia pulang dengan patah semangat, sang istri selalu menghiburnya, tidak pernah mengeluh.
Ketika sudah berumur 30 tahun-an, ia mulai dapat berkat sedikit melalui bakat berbahasanya, menjadi pembimbing di sekolah luar biasa tuna rungu wicara.
Kemudian, ia membuka sekolah siswa cacat, dan akhirnya ia bisa membuka banyak cabang toko yang menjual alat-alat bantu orang cacat di berbagai kota.
Ia sudah menjadi bos yang memiliki harta kekayaan berlimpah.
Suatu hari, ia yang sekarang sudah sukses besar, bertanya kepada sang istri, bahwa ketika dirinya sendiri saja sudah merasakan masa depan yang suram, mengapa engkau tetap begitu percaya kepada ku?
Ternyata jawaban sang istri sangat polos dan sederhana.
Sang istri menjawab: sebidang tanah, tidak cocok untuk menanam gandum, bisa dicoba menanam kacang, jika kacang pun tidak bisa tumbuh dengan baik, bisa ditanam buah-buahan; jika buah-buahan pun tidak bisa tumbuh, semaikan bibit gandum hitam pasti bisa berbunga. karena sebidang tanah, pasti ada bibit yang cocok untuknya, dan pasti bisa menghasilkan panen dari nya.
Mendengar penjelasan sang istri, ia pun terharu mengeluarkan air mata. Keyakinan kuat, katabahan serta kasih sayang sang istri, bagaikan sebutir bibit yang unggul;
Semua prestasi pada dirinya, semua adalah keajaiban berkat bibit unggul yang kukuh sehingga tumbuh dan berkembang menjadi kenyataan.
Di dunia ini tidak ada seorang pun adalah sampah. hanya saja tidak ditempatkan di posisi yang tepat.
Delapan kalimat di bawah ini, semuanya adalah intisari kehidupan:
1. Orang yang tidak tahu menghargai sesuatu, biarpun diberi gunung emas pun tidak akan bisa merasakan kebahagiaan.
2. Orang yang tidak bisa toleransi, seberapa banyak teman pun, akhirnya semua akan meninggalkannya.
3. Orang yang tidak tahu bersyukur, seberapa pintar pun, tidak akan sukses.
4. Orang yang tidak bisa bertindak nyata, seberapa cerdas pun tidak akan tercapai cita-cita nya.
5. Orang yang tidak bisa bekerjasama dengan orang lain, seberapa giat bekerja pun tidak akan mendapatkan hasil yang optimal.
6. Orang yang tidak bisa menabung, terus mendapatkan rejeki pun tidak akan bisa menjadi kaya.
7. Orang yang tidak bisa merasa puas, seberapa kaya pun tidak akan bisa bahagia.
8. Orang yang tidak bisa menjaga kesehatan, terus melakukan pengobatan pun tidak akan berusia panjang.
Monday, March 14, 2016
Kumpulan Puisi Soe Hok Gie
Soe Hok Gie (lahir di Jakarta, 17 Desember 1942 – meninggal di Gunung Semeru, 16 Desember 1969 pada umur 26 tahun) adalah seorang aktivis Indonesia Tionghoa yang menentang kediktatoran berturut-turut dari Presiden Soekarno dan Soeharto. Ia adalah mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia Jurusan Sejarah tahun 1962–1969 dia juga dikenal sebagai pendiri gerakan pencinta alam di Universitas Indonesia yang sekarang.
Soe adalah seorang etnis Tionghoa Katolik Roma. Leluhur Soe Hok Gie sendiri adalah berasal dari provinsi Hainan, Republik Rakyat Tiongkok. Ayahnya bernama Soe Lie Piet alias Salam Sutrawan. Ia keempat dari lima bersaudara di keluarganya; kakaknya Arief Budiman, seorang sosiolog dan dosen di Universitas Kristen Satya Wacana, juga cukup kritis dan vokal dalam politik Indonesia.
Soe juga banyak sekali melahirkan kata-kata indah dalam puisi-puisinya berikut adalah puisi indah dari Soe Hok Gie..
Sebuah Tanya
Akhirnya semua akan tiba
pada suatu hari yang biasa
Pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
Apakah kau masih selembut dahulu
Memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
Sambil membenarkan letak leher kemejaku
(Kabut tipis pun turun pelan pelan
di Lembah Kasih, Lembah Mandalawangi
Kau dan aku tegak berdiri
Melihat hutan-hutan yang menjadi suram
Meresapi belaian angin yang menjadi dingin)
Apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
Ketika kudekap
Kau dekaplah lebih mesra, Lebih dekat
(lampu-lampu berkelipan di Jakarta yang sepi
Kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya
Kau dan aku berbicara
Tanpa kata, tanpa suara
Ketika malam yang basah menyelimuti Jakarta kita)
Apakah kau masih akan berkata
Kudengar derap jantungmu
Kita begitu berbeda dalam semua
Kecuali dalam cinta
(hari pun menjadi malam
Kulihat semuanya menjadi muram
Wajah-wajah yang tidak kita kenal berbicara
Dalam bahasa yang kita tidak mengerti
Seperti kabut pagi itu)
Manisku, aku akan jalan terus
Membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan
Bersama hidup yang begitu biru
Cahaya bulan menusukku
Dengan ribuan pertanyaan
Yang takkan pernah kutahu dimana jawaban itu
Bagai letusan berapi
Membangunkanku dari mimpi
Sudah waktunya berdiri
Mencari jawaban kegelisahan hati
From Soe Hok Gie With Love
Hari ini aku lihat kembali
wajah-wajah halus yang keras
yang berbicara tentang kemerdekaan
dan demokrasi
dan bercita-cita
menggulingkan tiran
aku mengenali mereka
yang tanpa tentara
mau berperang melawan diktator
dan yang tanpa uang
mau memberantas korupsi
kawan-kawan
kuberikan padamu cintaku
dan maukah kau berjabat tangan
selalu dalam hidup ini??
(soe hok gie à sinar harapan, 18 agustus 1973)
CINTA
Ada orang yang menghabiskan waktunya untuk berziarah ke Mekkah
Ada orang yang menghabiskan waktunya untuk berjudi di Miraza
Tapi aku ingin habiskan waktuku disisimu, sayangku
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu,
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mandalawangi
Ada orang yang menghabiskan waktunya untuk berjudi di Miraza
Tapi aku ingin habiskan waktuku disisimu, sayangku
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu,
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mandalawangi
Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra
Tapi aku ingin mati disisimu, manisku
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tau
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra
Tapi aku ingin mati disisimu, manisku
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tau
Mari sini, sayangku
Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik, dan simpati padaku
Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung
Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik, dan simpati padaku
Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung
Kita tak pernah menanam apa-apa
Kita tak pernah kehilangan apa-apa
Kita tak pernah kehilangan apa-apa
( Selasa, 11 November 1969 )
Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan
Yang kedua dilahirkan tapi mati muda
Dan yang tersial adalah berumur tua
Berbahagialah mereka yang mati muda
Mahluk kecil kembalilah dari tiada ke tiada
Berbahagialah dalam ketiadaanmu
CITA-CITA
Saya mimpi tentang sebuah dunia
Dimana ulama, buruh, dan pemuda,
Bangkit dan berkata, “Stop semua kemunafikan! Semua pembunuhan atas nama apapun!”
Dan para politisi di PBB sibuk mengatur pengangkutan gandum, beras, dan susu
Buat anak-anak yang lapar di tiga benua
Dan lupa akan diplomasi
Tak ada lagi rasa benci pada siapapun, agama apapun, ras dan bangsa apapun
Dan melupakan perang dan kebencian
Dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik
Dimana ulama, buruh, dan pemuda,
Bangkit dan berkata, “Stop semua kemunafikan! Semua pembunuhan atas nama apapun!”
Dan para politisi di PBB sibuk mengatur pengangkutan gandum, beras, dan susu
Buat anak-anak yang lapar di tiga benua
Dan lupa akan diplomasi
Tak ada lagi rasa benci pada siapapun, agama apapun, ras dan bangsa apapun
Dan melupakan perang dan kebencian
Dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik
Tuhan, saya mimpi tentang dunia tadi
Yang tak pernah akan datang
Yang tak pernah akan datang
( Salem, Selasa, 29 Oktober 1968 )
Kepada pejuang-pejuang lama
Biarlah mereka yang ingin dapat mobil, mendapatnya.
Biarlah mereka yang ingin dapat rumah, mengambilnya.
Dan datanglah kau manusia-manusia
Yang dahulu menolak, karena takut ataupun ragu.
Dan kita, para pejuang lama
Yang telah membawa kapal ini keluar dari badai
Yang berani menempuh gelombang (padahal pelaut-pelaut lain takut)
(kau tentu masih ingat suara-suara dibelakang…”mereka gila”)
Hai, kawan-kawan pejuang lama
Angkat beban-beban tua, sandal-sandal kita, sepeda-sepeda kita
Buku-buku kita ataupun sisa-sisa makanan kita
Dan tinggalkan kenangan-kenangan dan kejujuran kita
Mungkin kita ragu sebentar (ya, kita yang dahulu membina
Kapal tua ini
Di tengah gelombang, ya kita betah dan cinta padanya)
Tempat kita, petualang-petualang masa depan akan
Pemberontak-pemberontak rakyat
Di sana…
Di tengah rakyat, membina kapal-kapal baru untuk tempuh
Gelombang baru.
Ayo, mari kita tinggalkan kapal ini
Biarlah mereka yang ingin pangkat menjabatnya
Biarlah mereka yang ingin mobil mendapatnya
Biarlah mereka yang ingin rumah mengambilnya.
Ayo,,
Laut masih luas, dan bagi pemberontak-pemberontak
Tak ada tempat di kapal ini
Tentang kemerdekaan
Kita semua adalah orang yang berjalan dalam barisan
Yang tak pernah berakhir,
Kebetulan kau baris di muka dan aku di tengah
Dan adik-adikku di belakang
Tapi satu tugas kita semua,
Menanamkan benih-benih kejantanan yang telah kau rintis….
Kita semua adalah alat dari arus sejarah yang besar
Kita adalah alat dari derap kemajuan samua;
Dan dalam berjuang kemerdekaan begitu mesra berdegup
Seperti juga perjalanan di sisi penjara
Kemerdekaan bukanlah soal orang-orang yang iseng dan pembosan
Kemerdekaan adalah keberanian untuk berjuang
Dalam derapnya, dalam desasnya, dalam raungnya kita
Adalah manusia merdeka
Dalam matinya kita smua adalah
Manusia terbebas.
Mandalawangi-Pangrango
Sendja ini, ketika matahari turun
Ke dalam djurang-djurang mu
Aku datang kembali
Ke dalam ribaanmu, di dalam sepimu
Dan dalam dinginnya.
Walaupun setiap orang berbitjara
Tentang manfaat dan guna
Aku bicara terima kau dalam keberadaanmu
Seperti kau terima daku.
Aku tjinta padamu, Pangrango jang dingin dan sepi
Sungaimu adalah njanjian keabadian tentang tiada
Hutanmu adalah misteri segala
Tjintamu dan tjintaku adalah kebisuan semesta.
Malam itu ketika dingin dan kebisuan
Menjelimuti mandalawangi
Kau datang kembali
Dan bitjara padaku tentang kehampaan semua.
“hidup adalah soal keberanian,
Menghadapi jang tanda tanja
Tanpa kita bisa mengerti, tanpa kita bisa menawar
Terimalah, dan hadapilah.
Dan antara ransel-ransel kosong
Dan api unggun jang membara
Aku terima itu semua
Melampaui batas-batas hutanmu,
Melampaui batas-batas djurangmu
Aku tjinta padamu Pangrango
Karena aku tjinta pada keberanian hidup
Hidup
Terasa pendeknya hidup memandang sejarah
Tapi terasa panjangnya karena derita
Maut, tempat penghentian terakhir
Nikmat datangnya dan selalu diberi salam
“Merasa seneng jadi landa (belanda)
Kami adalah landa berpangkat kopral
Ini dibawah asuhan sapiteng, kapiten kok sapiteng
Ini saya mengatur sodat-sodat tidak pokro kabeh,
Semua walanda purik kabeh, tinggal aku thok,
Ini mana kapten kok tidak datang, ini kapten lali po piye?”
“Merasa seneng menjadi aktivis
Kami adalah aktivis berpangkat kopral
Ini dibawah asuhan aktivis reformasi lanjutkan,
Berkelanjutan kok lanjutkan
Ini saya mengatur saudara-saudara aktivis yang sudah
Muak dan bosan dengan ideology dan kemiskinannya
Semua aktivis melacur, tinggal aku aktivis yang belum di sunat
Ini mana kaptennya aktivis kok belum datang, lupa atau gimana?”
“Akhir-akhir ini saya selalu berpikir,
Apa gunanya semua yang saya lakukan ini.
Saya menulis, melakukan kritik kepada banyak orang…
Makin lama semakin banyak musuh saya dan
Makin sedikit orang yang mengerti saya.
Kritik-kritik saya tidak mengubah keadaan.
Jadi, apa sebenarnya yang saya lakukan…
Kadang-kadang saya merasa sungguh kesepian.”
(Soe Hok Gie)
Puisi Habibi untuk Ainun
Beberapa Puisi Indah dan Romantis dari Bapak Habibi untuk istri tercintanya, sangat menyentuh sekali puisi-puisi beliau membuat hati pembaca bergejolak merasakan amarah, kesedihan dan kehilangan yang di sampaikan dari bait-bait katanya.
Ainun
Hari ini, tepat 50 tahun dan 8 menit yang lalu, kita bertatap muka
Tanpa direncanakan mata kita bertemu, bagaikan kilat menyambar
memukau, mempesona "Getaran Cinta", bagian dari "Getaran Jiwa"
Alunan getaran yang tinggi, berirama denyutan jantung dan tarikan nafas
Tak terkendali mengkalbui diri kita sepanjang masa sampai akhirat
Tanpa direncanakan mata kita bertemu, bagaikan kilat menyambar
memukau, mempesona "Getaran Cinta", bagian dari "Getaran Jiwa"
Alunan getaran yang tinggi, berirama denyutan jantung dan tarikan nafas
Tak terkendali mengkalbui diri kita sepanjang masa sampai akhirat
Karena cinta kita paling suci, murni, sejati, sempurna dan abadi sampai
akhirat Memanjatkan doa kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa telah
memanunggalkan kita Memukau, mempesona berirama denyutan jatung dan
tarikan nafas yang tinggi Tempat peristirahatan ragamu, getaran cinta dan
getaran jiwa kita telah menyatu Sekarang 50 tahun dan 8 menit kemudian,
berkunjung ke Taman Makam Pahlawan..
Untuk Ainun
Tepat jam sepuluh pagi, lima puluh tahun yang lalu
Dengan ucapan Bismillahhirrahmaanirrahim, saya melangkah
Bertemu yang dilahirkan untuk saya dan saya untuk Ainun
Alunan budaya Jawa bernafaskan Islam, menjadikan kita suami isteri
Melalui pasang surut kehidupan, penuh dengan kenangan manis
Membangun keluarga sejahtera, damai dan tentram, keluarga sakinah
Sekarang sudah 50 tahun berlalu, selalu menyatu dan tetap menyatu sampai
Dengan ucapan Bismillahhirrahmaanirrahim, saya melangkah
Bertemu yang dilahirkan untuk saya dan saya untuk Ainun
Alunan budaya Jawa bernafaskan Islam, menjadikan kita suami isteri
Melalui pasang surut kehidupan, penuh dengan kenangan manis
Membangun keluarga sejahtera, damai dan tentram, keluarga sakinah
Sekarang sudah 50 tahun berlalu, selalu menyatu dan tetap menyatu sampai
akhirat Mengatasi tantangan badai kehidupan, berlayar ke akhirat dalam dimensi
apa saja Bersyukur pada Allah SWT yang telah melindungi dan mengilhami kita
Saya panjatkan doa untukmu, selalu dalam lindunganNya dan bimbinganNya
Setelah membacakan Tahlil bersama mereka yang menyayangimu Tepat jam 10 pagi
limapuluh tahun kemudian di Taman Makam Pahlawan
Seribu
Seribu hari, seribu tahun, seribu juta tahun....
sampai akhirat!Di manapun dalam keadaan apapun kami tetap tak
terpisahkan lagi Perekat kami menyatu, menunggal jiwa, roh, batin
dan nurani kami Allah, lindungi kami dari godaan, gangguan mencemari
cinta kami Yang murni, suci, sejati, sempurna dan abadi sepanjang masa
Kami siram dengan kasih sayang, cinta, iman, taqwa dan budaya kami
Sesuai keinginan, kemampuan, kekuatan dan kehendak-Mu Allah
Titipan Allah bibit cinta Ilahi pada tiap insan kehidupan di mana pun
Tetap manunggal dan menyatu tak terpisahkan lagi sepanjang masa
Di mana ada Ainun ada Habibie, di mana ada Habibie ada Ainun
Jiwa, roh, batin dan nuranimu telah menyatu denganku Ragamu
di Taman Pahlawan bersama para Pahlawan Bangsa lainnya Kita tetap
manunggal, menyatu dan tak berbeda sepanjang masa Karena cinta murni,
suci, sejati, sempurna dan abadi tak berbeda Lingkunganmu, kemampuanmu
dan kebutuhanmu pula berbedaSudah seribu hari Ainun pindah ke dimensi
dan keadaan berbeda
Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu. Karena aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya, dan kematian adalah sesuatu yang pasti, dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.
Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat, adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.
Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.
Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang, pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada, aku bukan hendak mengeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.
Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang, tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik. Mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.
Selamat jalan, kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya, kau dulu tiada untukku dan sekarang kembali tiada.
Selamat jalan sayang, cahaya mataku, penyejuk jiwaku, selamat jalan calon bidadari surgaku
-Bacharuddin Jusuf Habibie-
Friday, March 11, 2016
"Yang Saya Inginkan"
Sedih, Tapi Benar!
Seorang guru setelah makan malam, dia mulai memeriksa PR yang dikerjakan oleh para siswanya. Saat itu, suaminya berjalan di dekatnya dengan ponsel pintar sambil Belajar Bisnis Online.
Ketika membaca catatan terakhir, ibu guru itu mulai menangis dengan air mata berlinang...
Suaminya melihat hal itu dan bertanya, 'Mengapa kamu menangis sayang?
Apa yang terjadi?'
Istri: 'Kemarin saya memberikan pekerjaan rumah kepada para siswa saya, untuk menulis sesuatu tentang topik: "Yang Saya Inginkan"
'Suami: "OK, tapi kenapa kamu menangis?
'Istri:'Memeriksa catatan mereka, itulah yang membuat saya menangis.
'Suami ingin tahu:' Apa yang tertulis dalam catatan yang membuat kamu menangis?
'Istri:' bacalah tulisan anak ini...
"Keinginan saya adalah untuk menjadi sebuah ponsel pintar.
Orang tua saya sungguh sangat mencintai ponsel pintar mereka.
Mereka peduli ponsel pintar mereka, sehingga kadang-kadang mereka lupa untuk peduli kepada aku. Ayah saya pulang dari kantor lelah, ia memiliki banyak waktu untuk ponsel pintarnya, tapi tidak bagi saya.
Ketika orang tua saya melakukan beberapa pekerjaan penting dan ponsel pintar berdering, dengan segera mereka mengangkat teleponnya, tapi tidak untuk aku, bahkan jika aku merengek menangis pun.
Mereka bermain game di ponsel pintar, mereka tidak bermain dengan saya.
Mereka berbicara dengan seseorang di telepon pintar mereka, mereka tidak pernah mendengarkan saya, bahkan sekalipun saya mengatakan sesuatu yang penting.
Jadi, keinginan saya adalah untuk menjadi sebuah Ponsel Pintar."
Setelah mendengarkan catatan anak murid itu, sang suami tersentuh dan bertanya kepada istrinya,
'Siapa menulis itu sayang?'.
Istri: 'Anak kita!' ????????????
Gadget sungguh bermanfaat, tetapi itu semua adalah untuk kemudahan saja. Janganlah kita berhenti mencintai anggota keluarga dan orang-orang yang mencintai kita.
Rubahlah!!!!
Friday, March 4, 2016
Mutiara yang Bernoda
Ada seorang tua yang sangat beruntung. Dia menemukan sebutir mutiara yang besar & sangat indah. Namun kebahagiaannya segera berganti menjadi kekecewaan begitu dia mengetahui ada sebuah titik noda hitam kecil di atas mutiara tersebut.
Hatinya terus bergumam, kalau lah tidak ada titik noda hitam, mutiara ini akan menjadi yang tercantik dan paling sempurna di dunia. Semakin dia pikirkan semakin kecewa hatinya.
Akhirnya, dia memutuskan untuk menghilangkan titik noda dgn menguliti lapisan permukaan mutiara.
Tetapi setelah dia menguliti lapisan pertama, noda tersebut masih ada. Dia pun segera menguliti lapisan kedua dgn keyakinan titik noda itu akan hilang. Tapi kenyataannya noda tersebut masih tetap ada.
Lalu dengan tidak sabar, dia mengkuliti selapis demi selapis, sampai lapisan terakhir.
Benar juga noda telah hilang, tapi mutiara tsb ikut hilang...
HIKMAH ...
Begitulah dengan kehidupan nyata. Kadang kita suka mempermasalahkan hal yg kecil, yg tidak penting sehingga akhirnya merusak nilai yang besar.
Persahabatan yg indah puluhan tahun berubah menjadi permusuhan yang hebat hanya karena sepatah kata pedas yang tidak disengaja.
Keluarga yang rukun & harmonispun jadi hancur hanya karena perdebatan-perdebatan kecil yang tak penting.
Yang remeh kerap di permasalahkan, yang lebih penting dan berharga lupa dan terabaikan.
Seribu kebaikan sering tak berarti. Tapi setitik kekurangan diingat seumur hidup.
Mari belajar menerima kekurangan apapun yang ada dalam kehidupan kita. Bukankah tak ada yang sempurna di dunia ini...???
SEHATI bukan karena Memberi, tapi sehati krn saling memahami
CINTA bukan karena terpesona. Tapi cinta krn saling terbuka
BETAH bukan karena mewah, tapi betah krn saling mengalah
BERSAMA bukan karena harta dunia, tapi bersama karena SALING MENGISI
INDAH bukan karena selalu mudah, tetapi indah karena dihadapi bersama setiap kesusahan
Hatinya terus bergumam, kalau lah tidak ada titik noda hitam, mutiara ini akan menjadi yang tercantik dan paling sempurna di dunia. Semakin dia pikirkan semakin kecewa hatinya.
Akhirnya, dia memutuskan untuk menghilangkan titik noda dgn menguliti lapisan permukaan mutiara.
Tetapi setelah dia menguliti lapisan pertama, noda tersebut masih ada. Dia pun segera menguliti lapisan kedua dgn keyakinan titik noda itu akan hilang. Tapi kenyataannya noda tersebut masih tetap ada.
Lalu dengan tidak sabar, dia mengkuliti selapis demi selapis, sampai lapisan terakhir.
Benar juga noda telah hilang, tapi mutiara tsb ikut hilang...
HIKMAH ...
Begitulah dengan kehidupan nyata. Kadang kita suka mempermasalahkan hal yg kecil, yg tidak penting sehingga akhirnya merusak nilai yang besar.
Persahabatan yg indah puluhan tahun berubah menjadi permusuhan yang hebat hanya karena sepatah kata pedas yang tidak disengaja.
Keluarga yang rukun & harmonispun jadi hancur hanya karena perdebatan-perdebatan kecil yang tak penting.
Yang remeh kerap di permasalahkan, yang lebih penting dan berharga lupa dan terabaikan.
Seribu kebaikan sering tak berarti. Tapi setitik kekurangan diingat seumur hidup.
Mari belajar menerima kekurangan apapun yang ada dalam kehidupan kita. Bukankah tak ada yang sempurna di dunia ini...???
SEHATI bukan karena Memberi, tapi sehati krn saling memahami
CINTA bukan karena terpesona. Tapi cinta krn saling terbuka
BETAH bukan karena mewah, tapi betah krn saling mengalah
BERSAMA bukan karena harta dunia, tapi bersama karena SALING MENGISI
INDAH bukan karena selalu mudah, tetapi indah karena dihadapi bersama setiap kesusahan
Thursday, March 3, 2016
Perbedaan Kelas itu nyata
Baru
saja saat sedang bekerja tak sengaja saya membuka tautan mengenai tulisan dari
blog pribadi seorang penulis. Spektrum, begitu judul yang terbaca dibawah
tulisan nama penulisnya, Avianti Armand. Sayapun mulai membaca kalimat demi
kalimat yang kemudian terurai menjadi baying baying visual dalam benak saya.
Perlahan saya mulai paham kenapa viewersnya mencapai ribuan.
Dalam
spektrum, Avianti Armand berkontemplasi mengenai luasan bentang spektrum
(jangkauan, cakupan, lingkup) dari praksis (bidang kehidupan) manusia, ditilik
dari sepenggal dinamika tentang seorang arsitek yang bekejaran dengan waktu
dalam menyelesaikan desain pembangunan hunian sederhana untuk 5000 KK yang
sedang terancam digusur. Selain itu, adapula seorang kontraktor yang sedang
melaksanakan satu desain rumah milik seseorang yang lain di kawasan kuningan
dengan luas bangunan 7000 meter.
Dua
pilihan cakupan dari praksis yang ditawarkan dalam tulisan tersebut saya maknai
dengan sangat dalam. Dari sudut 5000 kk, hingga tanah seluas 7000 meter untuk
satu rumah. Dari kamar tidur seluas lapangan basket, hingga orang-orang yang
berumah gerobak. Dan tentang kegamangan kita saat klien, secara illegal,
menginginkan kita membuatkan sumur ertesis, padahal baying-bayang kaum miskin
yang kesulitan mendapat air bersih berlarian di benak kita.
Hal
hal perih jika dipikirkan dengan akal sehat.
Membaca
tulisan tersebut membuat saya tiba-tiba ingin menawarkan satu lagi pilihan
cakupan praksis yang lain. Sebutlah ini sebagai pilihan yang ke tiga. Yaitu,
tentang para buruh bangunan yang bekerja keras, membanting tulang dengan segala
bentuk pekerjaan kasar, berhadapan dengan terik matahari, berjauhan dengan
istri dan anak yang kebanyakan memilih bertahan menunggu dikampung, untuk
sejumlah uang agar anak-anak mereka dapat mengenyam pendidikan sekolah dan
memiliki modal usaha. Mereka yang berjuang mencukupi kebutuhan hidup dengan
benar-benar bekerja. Mereka menjadi ujung tombak berdirinya suatu bangunan.
Disuatu
waktu yang berbeda, saya harus mengelus dada dalam perasaan yang karut marut
saat menyaksikan berita-berita penggusuran yang dilakukan oleh developer. Walau
sungguhnya penggusuran tersebut tidak juga lantas melemparkan para pemukimnya
ke jalanan, sebab ada solusi lain yang telah disediakan. Yaitu dibangunkan sebentuk
rumah susun atau yang lainnya untuk di huni. Tetapi tetap saja, pemandangan
seperti itu adalah pemandangan yang memprihatinkan. Pada akhirnya saya
berkesimpulan, mungkin beginilah cara sebentuk persepektif melingkari kehidupan
manusia. Bagi saya, hidup adalah tentang kemampuan memahami kehidupan orang
lain. Maka, sebaiknya mungkin kita harus memperbanyak pilihan cara pandang,
agar tidak terkukung dalam penghakiman-penghakiman atas pilihan cara hidup
oranglain. Setelah itu yang bisa kita lakukan dengan kehidupan yang keras ini
adalah mempertajam suara hati nurani.
@Mirra Febriyanti
Subscribe to:
Posts (Atom)

















