Tuesday, October 20, 2015

Pendakian Gunung Tanggamus Gunung Tertinggi ke 2 di tanah Lampung

Basecamp Sonokeling Gungung Tanggamus 2102 mdpl

SINOPSIS
MEREKAM JEJAK

Kata Pengantar
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. Berkat limpahan karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan penulisan buku MEREKAM JEJAK Part 1. Dalam penyusunan MEREKAM JEJAK Part 1 ini kami telah berusaha semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan kami. Namun sebagai manusia biasa, kami tidak luput dari kesalahan dan kekhilafan baik dari segi tekhnik penulisan maupun tata bahasa.
Buku ini kami dedikasikan untuk mengenang sahabat kami Nandi Ariana Rahman selaku penulis buku ini yang telah mendahului kami pergi ke pangkuan Allah SWT. Karena buku ini adalah salah satu mimpinya yang belum sempat di selesaikan olehnya, maka dengan ditulisnya buku ini kami mencoba menyusun catatan perjalanan hidupnya di dalam bagian dari tulisan ini..
MEREKAM JEJAK adalah sebuah kisah perjalanan kami menggapai serpihan-serpihan keindahan Alam Negri ini yang di bagi menjadi beberapa part, ya perjalanan Alam bukan hanya wisata background semata melainkan wisata spirituil, untuk merenung, untuk lebih mengenali diri dan mengenal Tuhannya.
“Aku juga ingin agar ketika nanti kita tak sempat berbicara dengan anak cucu kita, mereka bisa membacanya dan mengerti betapa indahnya Tanah Lahirnya dan betapa bangganya mereka memiliki ayah dan kakek petualang” (Nandi Ariana Rahman).
Demikian semoga karya tulis ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan para pembaca pada umumnya.
Adityas Nu, 04 Februari 2016
Penyusun

Hutan Lumut G. Tanggamus 2102mdpl

Latar Belakang

Aku adalah bernama Nandi Ariana Rahman, Ibu dan Ayahku memanggilku nde, atau aa. Pacarku nanti semoga akan memanggil aa. Anak pertama dari tiga bersaudara yang kesemuanya harus bertakdir lelaki, Aku, Reda, dan Fatwa. Alhamdulillaah pemain smackdown semua, enggak aamiin.
Aku enggak ganteng, enggak tinggi, enggak sixpack, dan setidaknya enggak cantik dan kalau jalan setidaknya enggak seperti lelaki tanpa tulang, dan tetap selalu merasa seksi dengan kekuranganku. Usiaku hari ini sudah sampai seperempat abad semenjak kehadiranku di Bumi. Selalu merasa sebagai manusia beruntung yang sudah terlanjur hadir di planet ini dan harus, alhamdulillaah, bersyukurlah!!
Aku juga cuma lulusan SMA di SMAN 1 Jasinga yang mencoba melanjutkan pendidikan untuk sekedar mencari ilmu (karena ayahku tidak pernah menyuruh aku bekerja sesuai dengan jurusan yang terpaksa kuambil, katanya (ilmu mah gak bakal percuma, kerja mah gimana nanti maunya apa) di aneka kampus yaitu di UHAMKA selama 2 tahun dan mengenal banyak manusia yang menjadi teman dan sekarang masih tetap berkomunikasi seperti saudara sendiri, alhamdulillaah. Dilanjutkan dengan kepindahanku ke kampus di Bogor yaitu Universitas Pakuan dengan jurusan yang masih sama dan alhamdulillaah banyak teman lagi di sini. Ayahku juga bilang lagi ketika aku sulit untuk lulus “santai aja kuliah mah, gak perlu dibawa pusing, nanti juga lulus kalau udah waktunya”, kalau gak percaya ayahku bilang gitu, tanyain aja sama temanku si Kunto orang cibinong dan yang lainnya juga!! “Enak banget lu bokap lu bilang gitu”, kata si kunto waktu itu.
Dulu aku sempat punya pacar yang selalu kuanggap cantik dan sekarang masih dianggap cantik sama pacar barunya atau mungkin suaminya kalau sudah menikah, maaf, hehee.
Baiklah sekarang kuceritakan tentang adikku yang ikut dalam perjalanan ini, yaitu si Reda.
Reda Nugraha Maulana Sidik nama lengkapnya. Kalau nama panjangnya mah Redaaaaaaaaaaaa. Aku panggil dia sih “ade”, wajar kan?
Usianya berselisih 4 tahun di bawahku karena dia adikku. Kasihan si Reda enggak pernah berhasil mendahului usiaku ini. Secara fisik dia lebih tinggi dari aku yang sedang menjadi kakaknya di Planet Bumi ini. Dia selalu mengikutiku dari semenjak kecil. Sekolah di SD yang sama dengaku dan jadi adik kelasku. Di SLTP yang sama denganku juga di SMA yang sama dengan SMA ku dulu bersekolah. Tapi alhamdulillaah enggak ngikutin kuliah di kampus yang sama karena dia lebih beruntung dariku dan bisa masuk ke kampus yang katanya susah seleksi masuknya, di UPI (Univ. Pendidikan Indonesia).
Sekarang si Reda sudah diwisuda alhamdulillaah enggak telat sepertiku. Dan sewaktu perjalanan ke Lampung ini juga dia sudah lulus sidang kok, alhamdulillaah ya. Seandainya belum sidang skripsi pun dia pasti tetap ikut aku naik gunung. Iya dek, skripsi jangan sampai mengganggu waktu bermainmu, apalagi mengganggu jadwal mimpimu untuk naik gunung.
Kami bersaudara selalu sering untuk mendaki gunung bersama, dia ingin ikut dan aku juga enggak tega ninggalinnya.
Baiklah aku jelaskan mengapa harus ke Lampung, mengapa enggak ke tempat yang dekat, kenapa enggak kelilingi dulu pulau jawa dan tidak usah menyebrang ke arah barat.
Aku adalah orangnya yang sulit untuk menjadi mengikuti arus utama atau bisa dibilang enggak mau yang mainstream (kata anak ghaul). Selalu ingin berbeda dengan pendapat yang manusia lain meskipun aku harus salah, hahaa. Tapi aku harus jujur dan memang begitu adanya. Pendapat orang yang padahal benarpun akan aku salahkan jika sedang mau, hahaa. Jadi ingat quotes Pidi Baiq “kalau kamu benar, jangan merasa paling benar. Karena akupun kalau salah, tidak akan merasa paling salah”.
Awalnya aku memiliki rencana untuk ke Pagaralam di Sumatera Selatan yang ibukotanya Palembang yaitu gunung Dempo. Kenapa harus gunung Dempo? Karena kalau everest kejauhan dan gak punya uang dan dingin dan bisa mati aku dan mendingan kita naik haji dulu lah, aamiin.
Di salah satu status Facebook temanku lebih tepatnya abangku yaitu bang Effendi Bukanpepen (nama facebooknya) tak lain salah satu admin grup Pendaki Indonesia yang berslogan “persahabatan terjalin, persaudaraan terengkuh, bersama mengukir cinta kepada alam”. Bang Pepen sepertinya akan mendaki gunung Dempo yang memang sudah sangat kuinginkan semenjak dulu. Dan sempat gagal ketika akan ke Dempo bersama kang Budi (hijjau jenggala nama facebooknya) juga tak lain sebagai admin Pendaki Indonesia juga yang keren dan baik hati juga selalu kurayu untuk bisa memberikan jam tangan kesayangannya padaku, tapi gagal rayuanku. Saat itu gunungnya sedang aktif tidak boleh didaki ya kang? Gagal kita ya.
Pernah juga aku akan ke Dempo dengan mbak keren yang satu ini yaitu mbak Siska yang awalnya kenal karena dia satu kost dengan mantan pacarku dahulu kala jaman purba hahaa. Apa kabar mbak Siska? Alhamdulillaah kalau sehat, kuliah sudah lulus kan?. Kamu tahu gak? Mbak siska ini hebat dan aku kagum karena dia bekerja di Jakarta, di KPPU ya mbak? KPPU itu Komisi Pengawasan Persaingan Usaha, benar gak mbak? Dan sambil melanjutkan kuliah S2 nya di jawa tengah yang memaksa harus backpackeran seminggu sekali sepulang kerja dari Jakarta ke Jawa Tengah, itu keren!!!! Aku juga mau nanti doain aja, aamiin.
Karena beberapa kali harus gagal ke Pagaralam, jadinya aku mau ikut bang Pepen yang cuma solo karir pergi ke sana dan nanti akan bergabung dengan salah satu admin Pendaki Indonesia juga di Pagaralam yaitu mbak Qey, Qey Rimba Jenggala nama facebooknya, cari aja.
Sekarang harus jadi, kataku dalam hati. Ikut sama bang Pepen, sudah nanya-nanya budget untuk bisa pergi ke sana dan harus bisa pulang lagi dalam keadaan tetep subur badanku. Kami akan berangkat tanggal 18 Juli 2015 sehari setelah lebaran Idul Fitri. Dan aku belum sekalipun mengatakannya pada Ibuku karena takut dimarah “lebaran malah jalan jauh!! Bukannya di rumah kumpul keluarga, jangan jalan!! Naik gunung terus ngabisin duit, kan harus nikah!! Bukannya ditabung duitnya!!”, ibuku bakal bilang gitu menurut perkiraanku dan ucapannya mungkin akan seperti tanpa tanda baca “koma” pas diucap, bakalan cerewet memarahiku oh mungkin menasihatiku dan tentunya aku enggak bakal kebagian waktu untuk ngomong (diam sajalah).
Makanya aku diam saja pas merencanakan ini dengan bang pepen, tapi si reda mah tahu rencana ini. Dengan beberapa pertimbangan seperti, ongkos, biaya logistik, buat jajan di jalan, tanggal keberangkatan dan lainnya. Yang paling berat membuatku harus mikir adalah ongkos yang naik berkali-kali lipat oleh sebab hari raya alias tuslah.
Lalu bang Pepen tiba-tiba merubah tanggal keberangkatan menjadi tanggal 17 Juli 2015 alias pass hari lebaran. Gimana ini? Hari kedua lebaran saja aku belum berani bilang sama orangtuaku terutama ibu, apalagi ini berubah tanggal menjadi hari pertama lebaran.
Langsung saja kucoba menghubungi temanku orang Pringsewu, Lampung yang bekerja di daerah Jakarta yaitu Adityas. Lama rasanya chating untuk menentukan tanggal jika memang bisa aku pergi ke Lampung. Aku belum membatalkan jadwal dengan bang Pepen dan akan kukabari lagi bang Pepen nanti. Dengan Adit awalnya kami merencanakan pendakian ke Tanggamus tanggal 20 dengan hasil belum pasti karena Adit akan menghubungi temannya dulu. Esok harinya adit mengabari bahwa tidak bisa mendaki tanggal 20 karena ada kepentingan lain, bisanya tanggal 21.
Di sinilah aku ngobrol sama si reda, aku tanya apa dia mau ikut atau enggak. Mau dia ternyata dan panjang obrolan kami. Akhirnya aku membatalkan jadwal dengan bang Pepen ke gunung Dempo. Ini alasannya.
Pertama, maaf bang Pepen, itu tepat hari lebaran dan aku sudah pasti akan merasakan marah besar orangtuaku, terutama ibuku yang sedang sakit sehabis operasi kanker yang sudah stadium 4 itu. Aku enggak mau nambahin beban pikiran ibuku.
Kedua dan terakhir, masalah biaya perjalanan hari lebaran yang ongkos saja sudah mahal karena tuslah. Minimal aku harus punya uang sekitar 1,5jt untuk bisa ke dempo dan bisa pulang lagi. Alhamdulillaah karena rajin menabung aku punya melebihi budget untuk ke dempo. Tapi si reda, dia belum kerja, belum punya penghasilan jadinya enggak punya uang sebanyak itu. Apa aku harus tega enggak ngajak dia yang biasanya selalu ikut denganku? Enggak tega, bakalan aku ajak. Tapi kalau untuk berdua berarti harus punya uang sekitar 3juta dalam waktu yang tinggal beberapa hari lagi dan kemungkinannya gak bakalan ada uang segitu. Biar si reda tetap bisa ikut mendaki bersamaku, dengan inilah kuputuskan mendaki gunung Tanggamus saja setelah kuperkirakan biayanya untuk dua manusia. Fix Tanggamus!!
Sekarang kami hanya cukup memikirkan bagaimana caranya mendapatkan ijin dari kedua orangtua kami yang ternyata sampai malam sebelum keberangkatan kami masih dilarang berangkat untuk naik gunung dihari ketiga lebaran yaitu tanggal 19 Juli 2015.
Ini sedikit latar belakang dan beberapa alasan kami untuk liburan lebaran dengan akhirnya dipilih gunung Tanggamus sebagai tujuan kami.
Terimakasih, dadaaah salam sayang



SINOPSIS
MEREKAM JEJAK
(Secuil Kisah Perjalanan Menggapai Serpihan Surga di Alam Indonesia)
Perjalanan Alam, entah bagaimana aku bisa sangat tertarik dengan hobi ini, seolah tak bisaku melepaskannya, berawal dari ajakan salah satu teman untuk mendaki salah satu gunung tertinggi ke 2 di kampung kami, kami tinggal dan tumbuh di salah satu bagian dari ujung selatan pulau sumatra, tepatnya berada di Kabupaten Pringsewu, Lampung, sewatu di bangku perkuliahan dulu, ajakan itu langsung ku ia kan tanpa berfikir panjang seperti apa pendakian, apa yang harus di lengkapi dan apa saja resiko terburuknya, yang ku tau hanya ini ajakan hiking untuk bersenang2 dan berwisata background semata..
Dari hari itu, hobi ini melekat erat padaku, Alam seolah menjadi candu kuat yang mengikatku untuk selalu berkeinginan mencumbui rindang alamnya, saya merasa dengan dekat akan alam, kita dapat memberikan kesempatan diri kita untuk belajar banyak hal, tentang bersyukur, mengenal batasan diri, mengikis ego, dan mengenal kuasa sang pencipta aku merasa mendapatkan banyak pengalaman baru dan hangatnya persahabatan dengan hobi ini, hampir setiap hari libur kita sering menghabiskan malam di bashcamp pendakian untuk sekedar menikmati belaian kabut dingin membelai kulit dengan di temani asap hangat yang keluar dari secangkir kopi hitam pekat yang pasti nikmat itu.
bertahun-tahun berlalu ternyata aku sedang duduk merenung pagi ini di beranda rumah dengan di temani kopi hitam yang nyaris dingin karena ku diami sejak tadi, lalu fikirannku pun kembali memutar rekaman kejadian beberapa tahun lalu tentang perkenalanku dengan salah satu sahabat terbaik yang ku punya, perkenalan yang singkat dan belum terlalu lama memang, tapi kita sudah seperti teman yang saling mengenal selama berjuta tahun, berawal dari perkenalan di social media, aku berniat membeli sebuah jaket gunung baru dan tak sengaja melihat postingan saller di salah satu grup pendaki, (tersenyum saya mengingat ini) Persekawanan yang terjalin dari sebatas Buyer dan Saller, tapi bukankah itu tak penting, yang terpenting bagaimana kita mempertahankan persekawanannya.. :D
Dan beberapa bulan yang lalu ia bertamu kerumahku, berniat untuk menikmati hutan hujan tropis di gunung tanggamus yang berdekatan memang dengan kampung halamanku, inilah pertemuan pertama kami yang lebih memantapkan bahwa persekawanan yang terjalin memang harus di pertahankan, lalu kemarin kau merangkum perjalanan itu kedalam coretan2 tulisanmu, dan memberikan sebagian sin nya pada ku untuk di selesaikan, lalu kita membuat konsep untuk merangkum kisah-kisah selama perjalanan, dan akupun meng ia kan agar kita bisa berlomba membuat sebuah karya tulis dengan Tokoh kita Pribadi untuk merangkum jutaan kisah selama perjalanan alam yang kita lewati, agar kelak jika kita sudah tak sempat bercerita pada anak cucu kita mereka masih bisa membaca dan menggambarkan bagaimana indahnya tanah lahirnya.
Otaku kembali memutarkan kejadian kemarin sore seperti melihat lagi kedalam kaleidoskop pribadi, Kau mengajaku untuk berkunjung ke puncak anjani akhir tahun ini, kau bilang ingin pergi jauh dan sangat lama, apa kau mencoba memberitahuku kalau kau memang ingin pergi jauh ke pangkuan ilahi? Ah sudahlah semua harus di ikhlaskan, Allah mempunyai jalan sendiri baginya untuk memberikan yang terbaik..
Sambil meneguk kopi hitam dan sebatang rokok, aku memulai merangkum perjalanan hidupku sendiri di buku ini, paling tidak aku membantu menyempurnakan salah satu angan yang belum sempat selesai ini.
Salam hangat dari kami om Nandi Ariana Rahman, Semoga kau Tersenyum melihat kami disini dari Syurganya Allah..

Untuk Cerita Lengkapnya Langsung aja Download Booknya
Di Sini


Galery

Jalur Puncak G. Tanggamus

Hutan Lumut

Hutan Lumut

Salter 2

Puncak G. Tanggamus (Top 2102mdpl)

Air Terjun Gunung Batu

Bendungan Batu Tegi

0 comments:

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html

Post a Comment